Dua Tutur: Dua Cara Berbicara dalam Bahasa Jawa

Dua Tutur: Dua Cara Berbicara dalam Bahasa Jawa

Dalam bahasa Indonesia, menyapa teman dan menyapa pimpinan cukup dibedakan dengan kata sapaan. Dalam bahasa Jawa, perbedaannya menjangkau jauh lebih dalam: seluruh kosakata bisa berubah wujud. Satu maksud yang sama — “saya ingin makan” — lahir sebagai “aku arep mangan” di ruang akrab, dan menjadi “kula badhe dhahar” di hadapan orang yang dihormati. Sistem ini bernama unggah-ungguh basa: tangga sopan santun yang menaik-turunkan tutur sesuai lawan bicara.

Dua siluet wayang saling berhadapan dalam obrolan dengan cahaya lampu hangat
Ilustrasi konsep: satu obrolan, dua tingkat — lawan bicara menentukan anak tangga mana yang dipijak.

Ngoko: Bahasa Kedekatan

Ngoko adalah tingkat paling lugas. Ia dipakai kepada teman dekat, adik, keponakan, atau siapa pun yang hubungannya sudah akrab — orang yang tidak perlu dijaga jaraknya. Ngoko bukan bahasa kasar; ia justru tanda kepercayaan. Berkata ngoko kepada sahabat lama adalah cara mengatakan “kita sudah tidak perlu berprotokol”.

Krama: Bahasa Penghormatan

Krama dipakai kepada orang tua, guru, mertua, tamu, atasan, atau dalam suasana resmi. Kata kerja, kata ganti, sampai partikelnya diganti dengan bentuk halus. Krama menuntut kecermatan: satu kata ngoko yang lolos bisa terdengar mencolok di tengah kalimat krama yang rapi.

Bukan hierarki Saja

Orang sering mengira unggah-ungguh hanya soal pangkat — bawah ke atas wajib krama. Kenyataannya lebih halus: dua direktur yang sebaya bisa saling ngoko karena akrab, sementara seorang anak bisa memakai krama kepada kakeknya bukan karena takut, melainkan karena sayang. Yang diukur bukan hanya posisi, tetapi juga keakraban dan suasana.

Satu Sistem, Banyak Rumah

Ketat-longgarnya tangga tutur juga berbeda dari rumah ke rumah dan dari kota ke kota. Di sebagian keluarga Surabaya, ngoko kepada orang yang lebih tua masih dianggap wajar bila nadanya hangat; di banyak keluarga Solo dan Yogyakarta, krama kepada orang tua adalah pakem yang tidak ditawar. Tidak ada yang lebih benar — keduanya rumah yang sama dengan tangga yang diatur sedikit berbeda. Anak kecil mempelajari aturan rumahnya lewat tiruan: mendengarkan kakak bicara kepada nenek, meniru, dikoreksi, lalu mencoba lagi besok. Proses itulah sebabnya salah satu kali tidak pernah jadi penghakiman.

Di zaman serba cepat, kebiasaan menakar lawan bicara ini ternyata berfaedah jauh di luar percakapan sehari-hari: ia melatih kita membaca konteks sebelum bertindak — kebiasaan yang sama yang menyelamatkan keputusan finansial saat berhadapan dengan tawaran menggiurkan. Lanjutkan ke kosakata krama dan ngoko, lihat tingkat yang lebih halus di halus dalam kata, atau baca cara memperbaiki salah tutur. Konten portal ini hanya untuk usia 18 tahun ke atas — bermainlah dengan tanggung jawab.