Kosakata Krama dan Ngoko: Panduan Lawan Bicara

Kosakata Krama dan Ngoko: Panduan Lawan Bicara

Memilih tingkat bicara itu setengah dari pekerjaan; setengah lainnya adalah menguasai pasangan kosakatanya. Kabar baiknya: kata krama dan ngoko hampir selalu berpasangan rapi, sehingga sekali hafal satu pasang, otomatis hafal dua tingkat sekaligus. Kabar buruknya: tidak ada rumus pembentukan — pasangan ini harus dikenali satu per satu, seperti mengenal wajah tetangga.

Naskah tua beraksara Jawa terbuka di atas meja kayu dengan wayang kulit di sampingnya
Ilustrasi konsep: kamus pasangan kata — warisan yang dipelajari satu pasang demi satu pasang.

Kamus Kecil Pasangan Kata

makan — mangan / dhahar

Ngoko: “Aku wareg mangan.” Krama: “Kula wareg dhahar.” Pasangan paling terkenal, sering jadi contoh pertama di kelas.

tidur — turu / tilem

Ngoko: “Dheweke turu.” Krama: “Panjenengan tilem.” Untuk orang yang sangat dihormati, sebagian penutur memakai bentuk krama inggil sare.

pergi — lunga / kesah

Ngoko: “Aku lunga disik.” Krama: “Kula kesah rumiyen.” Bentuk krama inggil untuk orang terhormat: tindak.

saya — aku / kula

Kata ganti orang pertama ikut naik tingkat: aku di ruang akrab, kula di ruang hormat.

kamu — kowe / panjenengan

Di tengahnya ada sampeyan dan ndikan yang biasa disebut madya — sopan untuk teman yang lebih tua, tidak setinggi panjenengan.

duduk — lungguh / lenggah

Ngoko: “Aja ngadeg, lungguh wae.” Krama: “Monggo lenggah.” Undangan duduk adalah salah satu frasa krama paling sering terdengar di rumah-rumah.

Menakar Lawan Bicara

  1. Usia dan posisi — lebih tua, lebih tinggi, atau tidak dikenal: condong ke krama.
  2. Keakraban — sudah pernah makan sehidangan dan bercanda: ngoko diperbolehkan, bahkan diharapkan.
  3. Suasana — acara resmi menaikkan tingkat satu anak tangga; pasar ramai menurunkannya setengah.

Rambu bagi Pemula

Bila ragu memilih, mulailah dari madya — tingkat tengah hampir tidak pernah salah sasaran: cukup sopan untuk orang yang belum akrab, cukup bersahabat untuk tidak terdengar kaku. Perhatikan pula partikel kecil di ujung kalimat, sebab ia ikut naik tingkat: “Aku bakal tuku ta?” di ruang ngoko menjadi “Kula badhe tumbas punapa?” di ruang krama. Dan ingat, bertanya “menawi kepareng nyuwun” — bolehkah saya bertanya — selalu lebih terhormat daripada menebak-nebak diam-diam.

Trik paling aman bagi pemula: dengarkan lawan bicara lebih dulu, lalu ikuti tingkatnya — persis seperti menyesuaikan langkah dengan orang yang diajak berjalan. Selami tingkat yang paling halus di halus dalam kata, kenali latar sistemnya di dua tutur, dan lihat bagaimana generasi kota mencairkannya di hormat yang fleksibel. Hanya untuk usia 18 tahun ke atas — bermainlah dengan tanggung jawab.