Hormat yang Fleksibel: Unggah-ungguh Zaman Sekarang
Hormat yang Fleksibel: Unggah-ungguh di Zaman Sekarang
Tanyakan kepada sepuluh mahasiswa Yogyakarta tentang kapan mereka memakai krama, dan jawabannya akan beragam: kepada dosen pasti, kepada ibu kos tergantung suasana, kepada teman satu angkatan tidak pernah, kepada kakek hanya saat Lebaran. Tidak ada yang salah dari keragaman itu. Unggah-ungguh memang bukan monumen yang beku — ia sistem hidup yang bentuknya terus menyesuaikan zaman, dan justru kemampuan menyesuaikan itulah yang membuatnya bertahan.
Yang Berubah
- Bahasa sehari-hari bergeser ke Indonesia — di kota besar, percakapan campur Jawa-Indonesia jadi norma, dan tingkat tutur sering hadir hanya di kata sapaan.
- Krama dianggap formal oleh sebagian anak muda — sebagian lain justru menganggapnya keren dan menghidupkannya kembali lewat konten media sosial.
- Kaidah memudar di beberapa detail — pasangan kata yang dulu wajib, kini boleh setengah; kalimat madya yang dulu dianggap ragu, kini dianggap cukup.
Penjaga Terakhir: Rumah dan Sekolah
Di tengah pergeseran itu, tangga tutur tidak ditinggalkan begitu saja — ia dipindahkan. Di banyak rumah, ibu yang tetap menegur dengan krama lembut saat anak salah bicara adalah penjaga paling setia; di sekolah Jawa Tengah dan Yogyakarta, unggah-ungguh masuk pelajaran bahasa Jawa dengan tugas percakapan yang dinilai. Bentuk penjagaannya memang berubah dari kewajiban menjadi pilihan, tetapi pilihan yang terus diperbarui tiap generasi jauh lebih tahan lama daripada kewajiban yang dibiarkan berkarat.
Yang Tidak Boleh Hilang
Di balih seluruh kelenturan itu, inti unggah-ungguh tetap satu: hormat kepada lawan bicara. Bentuknya boleh memudar, isinya tidak. Menyapa dengan sungguh-sungguh, mendengarkan sampai selesai, tidak memotong — semua itu adalah krama dalam wujud baru, bahkan bila kalimatnya berbahasa Indonesia penuh.
Fleksibel Bukan Berarti Tanpa Aturan
Prinsip yang sama berlaku pada kebiasaan bermain. Menyesuaikan gaya dengan situasi itu sehat — tetapi beberapa garis sebaiknya tetap tegak apa pun zamannya: dana bermain hanya yang bisa direlakan, batas waktu dipatuhi meski sedang seru, dan tidak pernah mengejar kekalahan dengan nominal lebih besar. Fleksibel pada bentuk, tegak pada isi — persis seperti unggah-ungguh yang kita kenal. Panduan praktisnya dirangkum di bermain tanggung jawab.
Akar sistemnya dibahas di dua tutur, kosakatanya di krama dan ngoko, tingkat terhalus di halus dalam kata, dan bila tertukar tingkat, uraikan di salah tutur. Hanya untuk usia 18 tahun ke atas.